Rabu, 06 September 2017

Terserah Allah aja



Assalamu’alaikum warahmatullahi Wabarakatuh
Akhir-akhir ini banyak teman-teman yang cerita tentang masalahnya, alhamdulillah ternyata masih ada orang yang percaya dengan saya, semoga Allah juga demikian,bisa segera mempercayai saya untuk segera menikah (apasih :D). Eh tapi kalo mau di Aminkan juga boleh.
Teman-teman, kali ini saya akan berkisah tentang bagaimana hidup seseorang anak yang bisa dikatakan berat untuk dijalani, melihat kondisi anak zaman sekarang yang mudah sekali mengeluh ketika ditimpa kesulitan.

Dia adalah saya sendiri, anak dari seorang manusia biasa, ayah dan ibu saya adalah seorang guru di desa perbatasan, kami hidup tercukupi dengan gaji yang diterima oleh kedua orangtua saya. Saya  hanya anak biasa yang tumbuh dalam kesederhanaan, terkadang saya aktif dan sering pula menjadi pemalu ketika bertemu dengan orang dewasa. Masa kecil saya di lalui dengan gembira bersama teman-teman hingga tanpa terasa sampailah pada usia belia. Ketika memasuki usia sekolah menengah saya bersekolah di tempat kedua orangtua saya mengajar, apakah berprestasi? Mungkin bisa dikatakan tidak, kecerdasan saya hanya biasa-biasa saja, apakah saya pandai bergaul? Itu juga tidak, saya jarang dikenal dengan teman-teman, saya anak yang kudet, jarang sekali teman saya main kerumah untuk nyariin saya. Bahkan ternyata teman terdekat saya ketika SMP mau berteman dengan saya karena gak enak dengan ortu saya, saya anak dari guru yang ngajarin dia, begitu tau kepalsuan itu saya berhenti menganggap dia teman terbaik saya. Lalu apa yang membuat saya ingin menulis sedikit perjalanan hidup saya ini? Pertama sebagai cara saya memperkenalkan diri saya, banyak orang bilang hidup saya enak, hidup saya lurus-lurus aja, ini sedikit pembelaan dari saya kalau sebenarnya saya bukan orang yang selurus itu hidupnya. Kedua ini untuk siswa-siswa saya tercinta, yang sedang menuntut ilmu disekolah yang telah dan sedang saya jalani sekarang, semoga cerita ibu bisa menguatkan antum semua dalam menghadapi masalah seberat apapun itu.

Semua berawal ketika ibunda tercinta saya divonis mengidap kanker darah (leukimia). Ketika itu usia saya sekitar 14 tahun (kelas 2 SMP) saya punya 3 adik yang saat itu masih kecil, ada yang masih SD dan 2 lainnya belum sekolah. Saya tidak tahu persis apa yang membuat ibu saya punya penyakit itu sampai detik saya menulis inipun saya tidak tahu apa penyebab ibu saya punya penyakit itu, dulu yang disampaikan ke saya selalu karena ibu suka telat makan dan pekerjaannya banyak. Memang, kami tidak punya asisten rumah tangga, semua pekerjaan rumah dilakukan ibu saya dan beliau juga adalah seorang guru disekolah, jadi sepertinya alasan itu cukup masuk akal untuk diterima oleh akal saya yang gak seberapa ini. Karena ibu saya sakit otomatis beberapa pekerjaan rumah saya yang handle ,untungnya sedari saya SD beliau sudah membiasakan saya untuk ngurusin rumah. Mulai dari  nyapu, ngepel, bersih-bersih perabot, bersih-bersih halaman, mencuci baju sendiri sampai belanja kepasar sudah beliau biasakan kepada saya, dan ternyata semua itu bukan masalah bagi saya kala itu, ibu saya juga masih tetap melakukan pekerjaan sebagai IRT meskipun beliau sedang sakit.

Diawal sakitnya beliau saya masih bisa ikut kegiatan ekskul disekolah, saya ikut menari, pramuka, osis, saya juga pernah ikut klub basket, serangkaian kegiatan itu saya ikuti hingga akhirnya satu persatu saya ikhlaskan untuk dihentikan. Alasannya apa? Karena keterbtasan waktu yang saya punya, ibu sudah harus bolak-balik ke jambi untuk kontrol dan tidak jarang harus opname karena HB rendah. Ini otomatis berimbas pada saya yang notabenenya adalah anak perempuan tertua, saat itu tugas yang diberikan kepada saya adalah mengurus adik kecil saya yang kala itu usianya kurang lebih satu tahun, kalau ibu harus kontrol ke jambi saya pun turut serta menemani beliau, paling tidak untuk bisa mejaga adik kecil saya itu, kalau ibu sedang berada dirumah saya tetap membantu pekerjaan yang bisa saya kerjakan, disanalah waktu saya terhabiskan hingga akhirnya keputusan “mengalah” itu diambil.
Saya adalah anak biasa kala itu, ego saya besar sekali, jadi tidak semua ekskul saya berhentikan, saya tetap mengikuti ekskul pramuka sampai saya masuk ke sekolah menengah atas, karena saya merasa, saat ikut kegiatan pramuka saya bisa sedikit nyaman dengan banyak pekerjaan rumah yang harus saya lakukan, saya sering sekali konflik dengan ayah saya perkara kegiatan pramuka ketika saya sudah di jenjang SMA, karena kegiatannya sering dilakukan pada malam hari jadi izin orangtua pun sulit didapat. Pernah suatu ketika saya mendapat kesempatan menjadi panitia kegiatan kemah dalam rangka HUT pramuka, saya sempat kabur, kekeuh pengen datang di acara malamnya dan pada akhirnya disusul oleh abang saya disuruh oleh mama saya, karena ayah saya marah saya ngotot tetap pergi ke acara itu. Sebenarnya saya juga yang salah waktu itu, ibu saya mau kontrol, adik-adik saya tidak ikut seperti biasa jadi saya diminta menjaga mereka ternyata keberangkatan ditunda sehari jadi berangkatnya besok pagi sedangkan malamnya saya ada acara kemah itu, ya jelas gak dapat izin karena gak ada etikanya sebagai anak.  Ibunya sakit mau pergi berobat lah anaknya gak ngumpul, alhamdulillah saya sadar biarpun gak langsung saat itu juga, maafka saya ya mak hehe. Kejadian ini juga menjadi awal saya mengurangi kegiatan pramuka, karena kondisi mama saya juga sudah semakin menurun, saya harus pandai atur waktu untuk sekolah, tugas sekolah dan rumah, karena ketika SMA, selain pelajaan semakin sulit, tugas-tugas semakin banyak dan keharusan untuk berprestasi juga di tuntut supaya setelah lulus bisa kuliah itu logika berpikir saya waktu itu, padahal peran saya di ekskul pramuka itu besar sekali, bisa dikatakan termasuk orang penting (eaa :D). Namanya hidup, tahap yang kita jalani adalah pilihan yang sudah kita pilih sebelumnya.

Mama saya meninggal ketika saya kelas 2 SMA waktu itu, rasanya berat pasti, orang terdekat dalam hidup saya harus pergi mendahului saya disaat saya masih remaja, disaat belum ada istilah GALAU. Tapi apa hendak dikata, ternyata kontrak mama saya dengan Allah hanya sampai saat itu saja, hanya sekejap itu saja, dan saya harus belajar ikhlas dan harus dituntut lebih dewasa. Lalu bagaimana posisi saya di keluarga? Wah semakin berat, mau tidak mau segala urusan dalam rumah saya harus bisa ngaturnya, mulai dari A sampai Znya pekerjaan rumah tangga harus saya kuasai, untungnya ayah dan nenek tetap membantu itu semua, meskipun kadang saya kesal sendiri karena gak sesuai dengan yang diharapkan. Apakah saya pernah setres dengan kenyataan ini? Jelas! Saya manusia, saya masih remaja, saya masih bau amis saat itu, pelariannya kemana? Ke pergaulan saya, saya semakin sering keluar rumah, jarang ada dirumah, ketika pekerjaan rumah selesai saya pun keluar mencari kesenangan yang gak jelas sama sekali, nongkrong, main-main, jalan-jalan gak jelas. Untung saat itu belum tren istilah cabe-cabean :D  Saya pun sampai pernah menuntut kepada ayah saya untuk memasukkan saya ke perguruan tinggi di luar jambi karena saya butuh kebebasan, saya bilang ke ayah saya dulu kalau saya menuntut ganti rugi atas masa kecil saya yang terbuang untuk ngurusin rumah dengan fokus belajar di universitas dan jurusan pilihan saya di luar kota jambi. Tuh, kebayangkan gimana lancangnya saya saat itu, jadi seolah-olah saya gak ikhlas selama ini menjalani kehidupan saya, apa reaksi ayah saya? Beliau marah besar sampai kami tidak saling sapa beberapa hari. Tapi baiknya Allah, Dia menyadarkan saya kalau saya selama ini sudah salah besar, berontaknya saya ini salah total jadi saya perlahan mulai menerima kenyataan dan mengurangi kegiatan-kegiatan gak bermanfaat yang selalu saya lakukan. Oh bukan perkara mudah untuk bisa menghilangkan kebiasaan nongkrong-nongkrong itu, apalagi teman-teman saya sering kesal karena saya jarang ikut ngumpul lagi, hingga suatu waktu saya harus rela di tinggal oleh teman dekat saya yang sudah banyak momen kami habiskan bersama demi menghilangkan penatnya saya dengan hidup yang saya lalui.

Bayangkan betapa malangnya nasib saya saat itu, disaat saya butuh banyak teman untuk menggantikan kesedihan yang saya alami mereka hilang. Tapi kembali lagi, satu kenyataan yang buat saya takjub sampai saat ini bahwa, tangan Allah itu ada dimana-mana. Kalau saya ingat-ingat sekarang bagaimana sulitnya saya melalui masa kecil yg saya gak ingat pernah ngapain aja dengan teman saya bukan karena saking banyaknya tapi karena memang tidak banyak yang saya lalui bersama mereka, hanya segelintir orang yang alhamdulillah sampai saat ini masih setia tetap menjadi sahabat saya, saya doakan semoga kita di kumpulkan oleh Allah di surgaNya, Aamiin. Bahkan sampai detik ini pun saya tetap menghadapi konflik-konflik batin, mengalami cekcok dalam keluarga, mengalami pertengkaran antar teman, merasa kecewa akan takdir yang harus saya hadapi, tapi saya yakin, saya percaya, dengan inilah Allah menaikkan derajat saya, mengkokohkan rangka saya untuk tetap tegak berdiri sebesar apapun badai yang akan saya lalui. Kalaulah saya saat ini dilihat lurus dalam hidup karena Allah yang menguatkan saya, karena Allah sudah melatih saya sedari dulu, dan saya harus menunjukkan eksistensi saya kepada Allah bahwa saya adalah hambanya yang kuat. Bukan karena kesombongan, tapi karena kesadaran bahwa segala apa yang kita hadapi itu adalah bentuk ujian dari Allah. Diri kita, ruh kita adalah milikNya, kalau miliknya Allah berarti harus siap juga diapa-apain sama Allah. Hadapi saja, ikhlaskan saja, bahwa sesungguhnya Allah itu dekat, Allah tahu apa yang kita rasa, Allah tahu apa yang kita pinta, Allah tahu apa yang kita derita. Serahkan semua kepadaNya agar kita bisa meraih ridhoNya. Jadi untuk siapapun, teman-teman saya yang telah membaca ini, jangan pernah putus asa dengan rahmat Allah, Allah maha penolong, Allah akan lapangkan segala urusan kita, segala masalah kita asal kita yakin bersamaNya. Tidaklah ada suatu penyakit itu muncul tanpa obatnya, tidaklah ada masalah tanpa diiringi dengan solusinya. Wallahualam, semoga ada manfaatnya. Mohon maaf untuk yang merasa tersinggung, mohon maaf untuk salah saya dalam menyampaikan, saya menulis ini berdasarkan apa yang saya rasa, dan hanya dari sudut pandang dan sudut rasa dalam diri saya, jadi mhon maaf jika ada hal-hal yang mungkin tidak terjadi tapi saya buat disini seolah terjadi, karena manusia punya rasa karena perempuan lebih perasa.
Wassalam, :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar