Assalamu’alaikum warahmatullahi Wabarakatuh
Akhir-akhir ini banyak teman-teman yang cerita tentang
masalahnya, alhamdulillah ternyata masih ada orang yang percaya dengan saya,
semoga Allah juga demikian,bisa segera mempercayai saya untuk segera menikah
(apasih :D). Eh tapi kalo mau di Aminkan juga boleh.
Teman-teman, kali ini saya akan berkisah tentang bagaimana hidup
seseorang anak yang bisa dikatakan berat untuk dijalani, melihat kondisi anak
zaman sekarang yang mudah sekali mengeluh ketika ditimpa kesulitan.
Dia adalah saya sendiri, anak dari seorang manusia biasa,
ayah dan ibu saya adalah seorang guru di desa perbatasan, kami hidup tercukupi
dengan gaji yang diterima oleh kedua orangtua saya. Saya hanya anak biasa yang tumbuh dalam
kesederhanaan, terkadang saya aktif dan sering pula menjadi pemalu ketika
bertemu dengan orang dewasa. Masa kecil saya di lalui dengan gembira bersama
teman-teman hingga tanpa terasa sampailah pada usia belia. Ketika memasuki usia
sekolah menengah saya bersekolah di tempat kedua orangtua saya mengajar, apakah
berprestasi? Mungkin bisa dikatakan tidak, kecerdasan saya hanya biasa-biasa
saja, apakah saya pandai bergaul? Itu juga tidak, saya jarang dikenal dengan
teman-teman, saya anak yang kudet, jarang sekali teman saya main kerumah untuk
nyariin saya. Bahkan ternyata teman terdekat saya ketika SMP mau berteman
dengan saya karena gak enak dengan ortu saya, saya anak dari guru yang ngajarin
dia, begitu tau kepalsuan itu saya berhenti menganggap dia teman terbaik saya.
Lalu apa yang membuat saya ingin menulis sedikit perjalanan hidup saya ini? Pertama
sebagai cara saya memperkenalkan diri saya, banyak orang bilang hidup saya
enak, hidup saya lurus-lurus aja, ini sedikit pembelaan dari saya kalau
sebenarnya saya bukan orang yang selurus itu hidupnya. Kedua ini untuk
siswa-siswa saya tercinta, yang sedang menuntut ilmu disekolah yang telah dan
sedang saya jalani sekarang, semoga cerita ibu bisa menguatkan antum semua dalam
menghadapi masalah seberat apapun itu.
Semua berawal ketika ibunda tercinta saya divonis mengidap
kanker darah (leukimia). Ketika itu usia saya sekitar 14 tahun (kelas 2 SMP)
saya punya 3 adik yang saat itu masih kecil, ada yang masih SD dan 2 lainnya
belum sekolah. Saya tidak tahu persis apa yang membuat ibu saya punya penyakit
itu sampai detik saya menulis inipun saya tidak tahu apa penyebab ibu saya
punya penyakit itu, dulu yang disampaikan ke saya selalu karena ibu suka telat
makan dan pekerjaannya banyak. Memang, kami tidak punya asisten rumah tangga,
semua pekerjaan rumah dilakukan ibu saya dan beliau juga adalah seorang guru
disekolah, jadi sepertinya alasan itu cukup masuk akal untuk diterima oleh akal
saya yang gak seberapa ini. Karena ibu saya sakit otomatis beberapa pekerjaan
rumah saya yang handle ,untungnya sedari saya SD beliau sudah membiasakan saya
untuk ngurusin rumah. Mulai dari nyapu,
ngepel, bersih-bersih perabot, bersih-bersih halaman, mencuci baju sendiri
sampai belanja kepasar sudah beliau biasakan kepada saya, dan ternyata semua
itu bukan masalah bagi saya kala itu, ibu saya juga masih tetap melakukan
pekerjaan sebagai IRT meskipun beliau sedang sakit.
Diawal sakitnya beliau saya
masih bisa ikut kegiatan ekskul disekolah, saya ikut menari, pramuka, osis,
saya juga pernah ikut klub basket, serangkaian kegiatan itu saya ikuti hingga
akhirnya satu persatu saya ikhlaskan untuk dihentikan. Alasannya apa? Karena keterbtasan
waktu yang saya punya, ibu sudah harus bolak-balik ke jambi untuk kontrol dan
tidak jarang harus opname karena HB rendah. Ini otomatis berimbas pada saya
yang notabenenya adalah anak perempuan tertua, saat itu tugas yang diberikan
kepada saya adalah mengurus adik kecil saya yang kala itu usianya kurang lebih
satu tahun, kalau ibu harus kontrol ke jambi saya pun turut serta menemani
beliau, paling tidak untuk bisa mejaga adik kecil saya itu, kalau ibu sedang
berada dirumah saya tetap membantu pekerjaan yang bisa saya kerjakan, disanalah
waktu saya terhabiskan hingga akhirnya keputusan “mengalah” itu diambil.
Saya adalah anak biasa kala itu, ego saya besar sekali, jadi
tidak semua ekskul saya berhentikan, saya tetap mengikuti ekskul pramuka sampai
saya masuk ke sekolah menengah atas, karena saya merasa, saat ikut kegiatan
pramuka saya bisa sedikit nyaman dengan banyak pekerjaan rumah yang harus saya
lakukan, saya sering sekali konflik dengan ayah saya perkara kegiatan pramuka
ketika saya sudah di jenjang SMA, karena kegiatannya sering dilakukan pada
malam hari jadi izin orangtua pun sulit didapat. Pernah suatu ketika saya
mendapat kesempatan menjadi panitia kegiatan kemah dalam rangka HUT pramuka,
saya sempat kabur, kekeuh pengen datang di acara malamnya dan pada akhirnya
disusul oleh abang saya disuruh oleh mama saya, karena ayah saya marah saya
ngotot tetap pergi ke acara itu. Sebenarnya saya juga yang salah waktu itu, ibu
saya mau kontrol, adik-adik saya tidak ikut seperti biasa jadi saya diminta
menjaga mereka ternyata keberangkatan ditunda sehari jadi berangkatnya besok
pagi sedangkan malamnya saya ada acara kemah itu, ya jelas gak dapat izin
karena gak ada etikanya sebagai anak. Ibunya
sakit mau pergi berobat lah anaknya gak ngumpul, alhamdulillah saya sadar
biarpun gak langsung saat itu juga, maafka saya ya mak hehe. Kejadian ini juga
menjadi awal saya mengurangi kegiatan pramuka, karena kondisi mama saya juga
sudah semakin menurun, saya harus pandai atur waktu untuk sekolah, tugas
sekolah dan rumah, karena ketika SMA, selain pelajaan semakin sulit,
tugas-tugas semakin banyak dan keharusan untuk berprestasi juga di tuntut
supaya setelah lulus bisa kuliah itu logika berpikir saya waktu itu, padahal
peran saya di ekskul pramuka itu besar sekali, bisa dikatakan termasuk orang
penting (eaa :D). Namanya hidup, tahap yang kita jalani adalah pilihan yang
sudah kita pilih sebelumnya.
Mama saya meninggal ketika saya kelas 2 SMA waktu itu,
rasanya berat pasti, orang terdekat dalam hidup saya harus pergi mendahului
saya disaat saya masih remaja, disaat belum ada istilah GALAU. Tapi apa hendak
dikata, ternyata kontrak mama saya dengan Allah hanya sampai saat itu saja,
hanya sekejap itu saja, dan saya harus belajar ikhlas dan harus dituntut lebih
dewasa. Lalu bagaimana posisi saya di keluarga? Wah semakin berat, mau tidak
mau segala urusan dalam rumah saya harus bisa ngaturnya, mulai dari A sampai
Znya pekerjaan rumah tangga harus saya kuasai, untungnya ayah dan nenek tetap
membantu itu semua, meskipun kadang saya kesal sendiri karena gak sesuai dengan
yang diharapkan. Apakah saya pernah setres dengan kenyataan ini? Jelas! Saya manusia,
saya masih remaja, saya masih bau amis saat itu, pelariannya kemana? Ke pergaulan
saya, saya semakin sering keluar rumah, jarang ada dirumah, ketika pekerjaan
rumah selesai saya pun keluar mencari kesenangan yang gak jelas sama sekali,
nongkrong, main-main, jalan-jalan gak jelas. Untung saat itu belum tren istilah
cabe-cabean :D Saya pun sampai pernah
menuntut kepada ayah saya untuk memasukkan saya ke perguruan tinggi di luar
jambi karena saya butuh kebebasan, saya bilang ke ayah saya dulu kalau saya
menuntut ganti rugi atas masa kecil saya yang terbuang untuk ngurusin rumah
dengan fokus belajar di universitas dan jurusan pilihan saya di luar kota jambi.
Tuh, kebayangkan gimana lancangnya saya saat itu, jadi seolah-olah saya gak
ikhlas selama ini menjalani kehidupan saya, apa reaksi ayah saya? Beliau marah
besar sampai kami tidak saling sapa beberapa hari. Tapi baiknya Allah, Dia
menyadarkan saya kalau saya selama ini sudah salah besar, berontaknya saya ini
salah total jadi saya perlahan mulai menerima kenyataan dan mengurangi
kegiatan-kegiatan gak bermanfaat yang selalu saya lakukan. Oh bukan perkara
mudah untuk bisa menghilangkan kebiasaan nongkrong-nongkrong itu, apalagi teman-teman
saya sering kesal karena saya jarang ikut ngumpul lagi, hingga suatu waktu saya
harus rela di tinggal oleh teman dekat saya yang sudah banyak momen kami
habiskan bersama demi menghilangkan penatnya saya dengan hidup yang saya lalui.
Bayangkan betapa malangnya nasib saya saat itu, disaat saya
butuh banyak teman untuk menggantikan kesedihan yang saya alami mereka hilang. Tapi
kembali lagi, satu kenyataan yang buat saya takjub sampai saat ini bahwa, tangan
Allah itu ada dimana-mana. Kalau saya ingat-ingat sekarang bagaimana sulitnya
saya melalui masa kecil yg saya gak ingat pernah ngapain aja dengan teman saya
bukan karena saking banyaknya tapi karena memang tidak banyak yang saya lalui
bersama mereka, hanya segelintir orang yang alhamdulillah sampai saat ini masih
setia tetap menjadi sahabat saya, saya doakan semoga kita di kumpulkan oleh
Allah di surgaNya, Aamiin. Bahkan sampai detik ini pun saya tetap menghadapi
konflik-konflik batin, mengalami cekcok dalam keluarga, mengalami pertengkaran
antar teman, merasa kecewa akan takdir yang harus saya hadapi, tapi saya yakin,
saya percaya, dengan inilah Allah menaikkan derajat saya, mengkokohkan rangka
saya untuk tetap tegak berdiri sebesar apapun badai yang akan saya lalui. Kalaulah
saya saat ini dilihat lurus dalam hidup karena Allah yang menguatkan saya,
karena Allah sudah melatih saya sedari dulu, dan saya harus menunjukkan
eksistensi saya kepada Allah bahwa saya adalah hambanya yang kuat. Bukan karena
kesombongan, tapi karena kesadaran bahwa segala apa yang kita hadapi itu adalah
bentuk ujian dari Allah. Diri kita, ruh kita adalah milikNya, kalau miliknya
Allah berarti harus siap juga diapa-apain sama Allah. Hadapi saja, ikhlaskan saja,
bahwa sesungguhnya Allah itu dekat, Allah tahu apa yang kita rasa, Allah tahu
apa yang kita pinta, Allah tahu apa yang kita derita. Serahkan semua kepadaNya
agar kita bisa meraih ridhoNya. Jadi untuk siapapun, teman-teman saya yang
telah membaca ini, jangan pernah putus asa dengan rahmat Allah, Allah maha
penolong, Allah akan lapangkan segala urusan kita, segala masalah kita asal
kita yakin bersamaNya. Tidaklah ada suatu penyakit itu muncul tanpa obatnya, tidaklah ada masalah tanpa diiringi dengan solusinya. Wallahualam, semoga ada manfaatnya. Mohon maaf untuk
yang merasa tersinggung, mohon maaf untuk salah saya dalam menyampaikan, saya
menulis ini berdasarkan apa yang saya rasa, dan hanya dari sudut pandang dan
sudut rasa dalam diri saya, jadi mhon maaf jika ada hal-hal yang mungkin tidak
terjadi tapi saya buat disini seolah terjadi, karena manusia punya rasa karena
perempuan lebih perasa.
Wassalam, :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar