Jumat, 16 Februari 2018

*MENDIDIK ANAK WANITA*

1. Berbahagialah orangtua yang dikaruniakan anak wanita sebab Rasulullah telah menjamin baginya surga jika sabar dan sukses mendidiknya.

2. Barangsiapa yang diuji dengan memiliki anak wanita, lalu ia asuh mereka dengan baik, maka anak itu akan menjadi penghalangnya dari api neraka (HR.Bukhari).

3. Sebagian orangtua menganggap remeh mendidik anak wanita, bahkan lebih mengunggulkan anak laki. Padahal wanita adalah tiang peradaban dunia.

4. Itulah kenapa, jika gagal mendidik anak wanita berarti kita telah memutus kebaikan untuk generasi masa depan.

5. Gagal mendidik anak wanita berarti kelak kita akan kekurangan ibu baik di masa depan. Dan ujung-ujungnya rusaklah masyarakat.

6. Ajarilah anak wanita kita akan keutamaan menjaga kesucian diri bukan sekedar menjaga keperawanan. Suci dan perawan itu beda!

7. Perawan terkait dengan faktor fisik, di mana selaput dara tidak robek. Sementara suci terkait dgn faktor akhlak dan sikap.

8. Banyak wanita yang bisa jadi masih perawan tapi tidak suci. Ia membiarkan badannya disentuh, bibirnya dikecup lelaki lain, asal tidak bersetubuh.

9. Sementara banyak juga wanita yg tidak perawan atas sebab kecelakaan, terjatuh, tapi masih suci. Sebab ia tak biarkan lelaki lain menyentuhnya.

10. Quran memberikan gelar wanita terbaik kepada Maryam tersebab ia selalu menjaga kesucian dirinya dalam kata, sikap dan tingkah laku

11. Maryam tidak sembarang gaul dengan lelaki asing. Maka, saat ia dinyatakan hamil, ia tetap suci di mata Allah.

12. Demikian pula dengan Bunda Khadijah, istri Rasulullah yang tidak lagi perawan tapi digelari 'Ath Thohirah' atau wanita suci.

13. Dari rahim wanita suci kelak muncul generasi berkualitas.
Nabi Isa adalah bukti keberkahan dari wanita yang menjaga kesuciannya.

14. Maka, tugas utama orangtua yang memiliki anak wanita adalah mengingatkan pentingnya kesucian bukan sekedar keperawanan.

15. Ajarkan anak wanita untuk bersikap sepatutnya terhadap lelaki asing atau yang bukan mahram. Ramah boleh tapi tetap jaga kemuliaan diri.

16. Saat anak wanita belum baligh atau masih anak2, ajarkan ia untuk membedakan 3 jenis sentuhan : pantas, meragukan dan haram.

17. Sentuhan pantas itu muaranya kasih sayang. Ini dilakukan oleh orang lain kepada anak wanita yang belum baligh di bagian sekitar kepala dan pundak.

18. Sentuhan yang meragukan, yakni antara kasing sayang versus nafsu. Biasanya berpindah-pindah tempat. Dari kepala turun ke bahu trus ke pinggang.

19. Jika sudah melewati batas bahu, yakni ke pinggang, atau ke perut, ajarkan anak untuk menolak dengan kalimat "Aku gak suka ah".

20. Terakhir, sentuhan haram yakni di wilayah sekitar kemaluan dan buah dada. Ajarkan anak kemampuan untuk menolak dan menghindar.

21. Dengan mengajari anak wanita kita tentang sentuhan, mengajarkan juga kepada mereka tentang berharganya tubuh mereka. Tidak sembarangan disentuh.

22. Selain itu, ajarkan juga kepada anak wanita kita tentang siapa itu saudara, sahabat, kenalan dan orang asing. Sikapi dgn beda.

23. Buat anak wanita tidak membutuhkan sosok lelaki lain yang menjadi 'pahlawan'nya selain ayah, kakek dan kakak & adik kandungnya.

24. Saat mereka tumbuh remaja, tak jual murah dirinya demi dicintai lelaki lain. Sebab sudah ada sosok lelaki idola dalam hidupnya, khususnya ayahnya.

25. Sebagian besar remaja wanita yang memutuskan untuk pacaran, karena tak punya lelaki idola di rumahnya sebagai tempat berbagi.

26. Dengan ayah dan kakak kandung tidak akrab. Sehingga ia
membutuhkan figur lelaki lain. Akhirnya, perlahan kesuciannya pudar. Jadilah mereka anak cabe-cabean.

27. Itulah mengapa AYAH perlu hadir dalam jiwa anak wanita sedari dini. Harus ada ikatan batin di antara mereka agar anak wanita tak cari idola lain.

28. Ayah harus sering berkomunikasi dengan anak wanitanya saat dalam kandungan.
Saat lahir, anak mengenali suara ayahnya pertama kali yang didengar.

29. Saat lahir, jadikan wajah AYAH lebih banyak discan dalam memori anak. Hadirkan ekspresi saat menggendong anak.

30. Ikatan batin antara ayah dan anak wanita ini memberi pengaruh saat anak tumbuh dewasa dan mengalami persoalan hidup.

31. Saat anak wanita mulai jatuh cinta, ia akan jadikan AYAH sebagai mentor cintanya. Tak ingin ditipu lelaki buaya. Nasehat ayah jadi panduan.

32. Saat anak wanita siap menikah, ia mencari sosok lelaki yang seperti ayahnya. Atau setidaknya pilihan ayahnya.

33. Bahkan saat anak wanita menjalani gonjang ganjing pernikahan. Ia tak butuh lelaki lain sebagai tempat curhat. Ayahnya lah yang jadi labuhan.

34. Peran ayah dalam menjaga kesucian anak wanita sangat vital.
Rusaknya moral anak wanita saat ini salah satunya karena ketidak-terlibatan ayah dalam mengasuh.

35. Karena itu, ajaklah para ayah agar terlibat dalam pengasuhan. Tak cuma sekedar cari nafkah. Tapi peduli akan anaknya khususnya yang wanita.

36. Semoga anak wanita di negeri ini selalu jaga kesuciannya sehingga siap untuk membina keluarga.

Sumber : Kajian Dhuha

🧕🏻💕🧕🏻💕🧕🏻💕🧕🏻💕🧕🏻

Masyaa Allah...
Satu hal lagi, ada nasihat yang disampaikan oleh ust. Bakhtiar Natsir dalam mendidik anak perempuan kita. Hendaknya orangtua berhati hati mendidik anak perempuan, jangan ditempa terlalu mandiri, sehingga merasa tidak perlu bantuan suaminya kelak. Membangun karakter anak perempuan harus dilandasi cinta kasih,dan perasaan yg menyentuh jiwa hingga masuk kedlm relung qalbu terdalam. Dari jiwanya yg lembut itu dapat memancarkan cahaya kepatuhan,lemah lembut dan akhlak yg mulia. ( dalam buku Masuk Syurga Sekeluarga. Oleh Ust.Bachtiar Nasir )

Dari grup HSMN Semarang

Rabu, 06 September 2017

Terserah Allah aja



Assalamu’alaikum warahmatullahi Wabarakatuh
Akhir-akhir ini banyak teman-teman yang cerita tentang masalahnya, alhamdulillah ternyata masih ada orang yang percaya dengan saya, semoga Allah juga demikian,bisa segera mempercayai saya untuk segera menikah (apasih :D). Eh tapi kalo mau di Aminkan juga boleh.
Teman-teman, kali ini saya akan berkisah tentang bagaimana hidup seseorang anak yang bisa dikatakan berat untuk dijalani, melihat kondisi anak zaman sekarang yang mudah sekali mengeluh ketika ditimpa kesulitan.

Dia adalah saya sendiri, anak dari seorang manusia biasa, ayah dan ibu saya adalah seorang guru di desa perbatasan, kami hidup tercukupi dengan gaji yang diterima oleh kedua orangtua saya. Saya  hanya anak biasa yang tumbuh dalam kesederhanaan, terkadang saya aktif dan sering pula menjadi pemalu ketika bertemu dengan orang dewasa. Masa kecil saya di lalui dengan gembira bersama teman-teman hingga tanpa terasa sampailah pada usia belia. Ketika memasuki usia sekolah menengah saya bersekolah di tempat kedua orangtua saya mengajar, apakah berprestasi? Mungkin bisa dikatakan tidak, kecerdasan saya hanya biasa-biasa saja, apakah saya pandai bergaul? Itu juga tidak, saya jarang dikenal dengan teman-teman, saya anak yang kudet, jarang sekali teman saya main kerumah untuk nyariin saya. Bahkan ternyata teman terdekat saya ketika SMP mau berteman dengan saya karena gak enak dengan ortu saya, saya anak dari guru yang ngajarin dia, begitu tau kepalsuan itu saya berhenti menganggap dia teman terbaik saya. Lalu apa yang membuat saya ingin menulis sedikit perjalanan hidup saya ini? Pertama sebagai cara saya memperkenalkan diri saya, banyak orang bilang hidup saya enak, hidup saya lurus-lurus aja, ini sedikit pembelaan dari saya kalau sebenarnya saya bukan orang yang selurus itu hidupnya. Kedua ini untuk siswa-siswa saya tercinta, yang sedang menuntut ilmu disekolah yang telah dan sedang saya jalani sekarang, semoga cerita ibu bisa menguatkan antum semua dalam menghadapi masalah seberat apapun itu.

Semua berawal ketika ibunda tercinta saya divonis mengidap kanker darah (leukimia). Ketika itu usia saya sekitar 14 tahun (kelas 2 SMP) saya punya 3 adik yang saat itu masih kecil, ada yang masih SD dan 2 lainnya belum sekolah. Saya tidak tahu persis apa yang membuat ibu saya punya penyakit itu sampai detik saya menulis inipun saya tidak tahu apa penyebab ibu saya punya penyakit itu, dulu yang disampaikan ke saya selalu karena ibu suka telat makan dan pekerjaannya banyak. Memang, kami tidak punya asisten rumah tangga, semua pekerjaan rumah dilakukan ibu saya dan beliau juga adalah seorang guru disekolah, jadi sepertinya alasan itu cukup masuk akal untuk diterima oleh akal saya yang gak seberapa ini. Karena ibu saya sakit otomatis beberapa pekerjaan rumah saya yang handle ,untungnya sedari saya SD beliau sudah membiasakan saya untuk ngurusin rumah. Mulai dari  nyapu, ngepel, bersih-bersih perabot, bersih-bersih halaman, mencuci baju sendiri sampai belanja kepasar sudah beliau biasakan kepada saya, dan ternyata semua itu bukan masalah bagi saya kala itu, ibu saya juga masih tetap melakukan pekerjaan sebagai IRT meskipun beliau sedang sakit.

Diawal sakitnya beliau saya masih bisa ikut kegiatan ekskul disekolah, saya ikut menari, pramuka, osis, saya juga pernah ikut klub basket, serangkaian kegiatan itu saya ikuti hingga akhirnya satu persatu saya ikhlaskan untuk dihentikan. Alasannya apa? Karena keterbtasan waktu yang saya punya, ibu sudah harus bolak-balik ke jambi untuk kontrol dan tidak jarang harus opname karena HB rendah. Ini otomatis berimbas pada saya yang notabenenya adalah anak perempuan tertua, saat itu tugas yang diberikan kepada saya adalah mengurus adik kecil saya yang kala itu usianya kurang lebih satu tahun, kalau ibu harus kontrol ke jambi saya pun turut serta menemani beliau, paling tidak untuk bisa mejaga adik kecil saya itu, kalau ibu sedang berada dirumah saya tetap membantu pekerjaan yang bisa saya kerjakan, disanalah waktu saya terhabiskan hingga akhirnya keputusan “mengalah” itu diambil.
Saya adalah anak biasa kala itu, ego saya besar sekali, jadi tidak semua ekskul saya berhentikan, saya tetap mengikuti ekskul pramuka sampai saya masuk ke sekolah menengah atas, karena saya merasa, saat ikut kegiatan pramuka saya bisa sedikit nyaman dengan banyak pekerjaan rumah yang harus saya lakukan, saya sering sekali konflik dengan ayah saya perkara kegiatan pramuka ketika saya sudah di jenjang SMA, karena kegiatannya sering dilakukan pada malam hari jadi izin orangtua pun sulit didapat. Pernah suatu ketika saya mendapat kesempatan menjadi panitia kegiatan kemah dalam rangka HUT pramuka, saya sempat kabur, kekeuh pengen datang di acara malamnya dan pada akhirnya disusul oleh abang saya disuruh oleh mama saya, karena ayah saya marah saya ngotot tetap pergi ke acara itu. Sebenarnya saya juga yang salah waktu itu, ibu saya mau kontrol, adik-adik saya tidak ikut seperti biasa jadi saya diminta menjaga mereka ternyata keberangkatan ditunda sehari jadi berangkatnya besok pagi sedangkan malamnya saya ada acara kemah itu, ya jelas gak dapat izin karena gak ada etikanya sebagai anak.  Ibunya sakit mau pergi berobat lah anaknya gak ngumpul, alhamdulillah saya sadar biarpun gak langsung saat itu juga, maafka saya ya mak hehe. Kejadian ini juga menjadi awal saya mengurangi kegiatan pramuka, karena kondisi mama saya juga sudah semakin menurun, saya harus pandai atur waktu untuk sekolah, tugas sekolah dan rumah, karena ketika SMA, selain pelajaan semakin sulit, tugas-tugas semakin banyak dan keharusan untuk berprestasi juga di tuntut supaya setelah lulus bisa kuliah itu logika berpikir saya waktu itu, padahal peran saya di ekskul pramuka itu besar sekali, bisa dikatakan termasuk orang penting (eaa :D). Namanya hidup, tahap yang kita jalani adalah pilihan yang sudah kita pilih sebelumnya.

Mama saya meninggal ketika saya kelas 2 SMA waktu itu, rasanya berat pasti, orang terdekat dalam hidup saya harus pergi mendahului saya disaat saya masih remaja, disaat belum ada istilah GALAU. Tapi apa hendak dikata, ternyata kontrak mama saya dengan Allah hanya sampai saat itu saja, hanya sekejap itu saja, dan saya harus belajar ikhlas dan harus dituntut lebih dewasa. Lalu bagaimana posisi saya di keluarga? Wah semakin berat, mau tidak mau segala urusan dalam rumah saya harus bisa ngaturnya, mulai dari A sampai Znya pekerjaan rumah tangga harus saya kuasai, untungnya ayah dan nenek tetap membantu itu semua, meskipun kadang saya kesal sendiri karena gak sesuai dengan yang diharapkan. Apakah saya pernah setres dengan kenyataan ini? Jelas! Saya manusia, saya masih remaja, saya masih bau amis saat itu, pelariannya kemana? Ke pergaulan saya, saya semakin sering keluar rumah, jarang ada dirumah, ketika pekerjaan rumah selesai saya pun keluar mencari kesenangan yang gak jelas sama sekali, nongkrong, main-main, jalan-jalan gak jelas. Untung saat itu belum tren istilah cabe-cabean :D  Saya pun sampai pernah menuntut kepada ayah saya untuk memasukkan saya ke perguruan tinggi di luar jambi karena saya butuh kebebasan, saya bilang ke ayah saya dulu kalau saya menuntut ganti rugi atas masa kecil saya yang terbuang untuk ngurusin rumah dengan fokus belajar di universitas dan jurusan pilihan saya di luar kota jambi. Tuh, kebayangkan gimana lancangnya saya saat itu, jadi seolah-olah saya gak ikhlas selama ini menjalani kehidupan saya, apa reaksi ayah saya? Beliau marah besar sampai kami tidak saling sapa beberapa hari. Tapi baiknya Allah, Dia menyadarkan saya kalau saya selama ini sudah salah besar, berontaknya saya ini salah total jadi saya perlahan mulai menerima kenyataan dan mengurangi kegiatan-kegiatan gak bermanfaat yang selalu saya lakukan. Oh bukan perkara mudah untuk bisa menghilangkan kebiasaan nongkrong-nongkrong itu, apalagi teman-teman saya sering kesal karena saya jarang ikut ngumpul lagi, hingga suatu waktu saya harus rela di tinggal oleh teman dekat saya yang sudah banyak momen kami habiskan bersama demi menghilangkan penatnya saya dengan hidup yang saya lalui.

Bayangkan betapa malangnya nasib saya saat itu, disaat saya butuh banyak teman untuk menggantikan kesedihan yang saya alami mereka hilang. Tapi kembali lagi, satu kenyataan yang buat saya takjub sampai saat ini bahwa, tangan Allah itu ada dimana-mana. Kalau saya ingat-ingat sekarang bagaimana sulitnya saya melalui masa kecil yg saya gak ingat pernah ngapain aja dengan teman saya bukan karena saking banyaknya tapi karena memang tidak banyak yang saya lalui bersama mereka, hanya segelintir orang yang alhamdulillah sampai saat ini masih setia tetap menjadi sahabat saya, saya doakan semoga kita di kumpulkan oleh Allah di surgaNya, Aamiin. Bahkan sampai detik ini pun saya tetap menghadapi konflik-konflik batin, mengalami cekcok dalam keluarga, mengalami pertengkaran antar teman, merasa kecewa akan takdir yang harus saya hadapi, tapi saya yakin, saya percaya, dengan inilah Allah menaikkan derajat saya, mengkokohkan rangka saya untuk tetap tegak berdiri sebesar apapun badai yang akan saya lalui. Kalaulah saya saat ini dilihat lurus dalam hidup karena Allah yang menguatkan saya, karena Allah sudah melatih saya sedari dulu, dan saya harus menunjukkan eksistensi saya kepada Allah bahwa saya adalah hambanya yang kuat. Bukan karena kesombongan, tapi karena kesadaran bahwa segala apa yang kita hadapi itu adalah bentuk ujian dari Allah. Diri kita, ruh kita adalah milikNya, kalau miliknya Allah berarti harus siap juga diapa-apain sama Allah. Hadapi saja, ikhlaskan saja, bahwa sesungguhnya Allah itu dekat, Allah tahu apa yang kita rasa, Allah tahu apa yang kita pinta, Allah tahu apa yang kita derita. Serahkan semua kepadaNya agar kita bisa meraih ridhoNya. Jadi untuk siapapun, teman-teman saya yang telah membaca ini, jangan pernah putus asa dengan rahmat Allah, Allah maha penolong, Allah akan lapangkan segala urusan kita, segala masalah kita asal kita yakin bersamaNya. Tidaklah ada suatu penyakit itu muncul tanpa obatnya, tidaklah ada masalah tanpa diiringi dengan solusinya. Wallahualam, semoga ada manfaatnya. Mohon maaf untuk yang merasa tersinggung, mohon maaf untuk salah saya dalam menyampaikan, saya menulis ini berdasarkan apa yang saya rasa, dan hanya dari sudut pandang dan sudut rasa dalam diri saya, jadi mhon maaf jika ada hal-hal yang mungkin tidak terjadi tapi saya buat disini seolah terjadi, karena manusia punya rasa karena perempuan lebih perasa.
Wassalam, :)

Rabu, 15 Maret 2017

Untukmu calon anakku :)

Rabu, 15 maret 2017.

Nak, saat mama menulis ini, usia mama masih 24 tahun lebih 2 bulan. Tidak ada rencana mama mau buat seperti ini untuk kamu nak, tapi karna mama mengalami banyak hal luar biasa (terkhusus hari ini) mama coba untuk tulis sedikit disini, takutnya nanti saat kamu ada mama lupa melakukan apa yang sudah jadi rencana mama dalam mendidik kamu.

Nak, mama gak punya banyak teman dekat, mama gak terlalu banyak punya sahabat yang mama bisa share masalah mama ke dia. tapi Alhamdulillah mama selalu jadi tempat untuk teman-teman mama cerita. Mama gak tau kenapa mereka tanpa ragu sharing kegundahan hati mereka ke mama. Kadang mama pengen seperti mereka nak, supaya hilanglah sedikit beban pikiran mama, tapi selalu gak berhasil, mama selalu merasa malu kalo cerita ke sembarang orang. Nah kali ini mama gak cerita tentang bagaimana mama menyikapi masalah nak, tapi lebih kepada pembelajaran yang banyak sekali mama dapatkan dari cerita-cerita mereka.

Nak kamu tau? Kebanyakan teman mama cerita tentang bagaimana kehidupannya dalam keluarga, kadang ada yang buat mama iri karena mama gak dapat hal itu dari kakek/nenek kamu, tapi banyak juga yang buat mama bersyukur masih terlahir dalam keluarga mama sekarang. Nak, mama suatu saat akan punya kamu (insya Allah), tanggung jawab yang harus mana besarkan dengan sebaik-baiknya, yang harus mama dan papa kamu didik sebaik-baiknya dan tentu saja harus kami bekali kamu dengan akidah yang baik pula nak. Nak, mama mau nanti hubungan kita sangat dekat, kamu bisa jadikan mama teman cerita kamu, kamu bisa sharing apa saja yang kamu mau, itu sifatnya harus nak, dan jadi PR mama juga untuk memikirkan cara supaya kamu merasa antara kita (kamu dan mama, atau kamu dan papa) tidak ada jarak. Kenapa mama memaksa hal itu, karena mama takut kamu punya manusia kepercayaan lain selain mama dan papamu nak, mama gak rela anak mama punya orang lain sebagai tempat untuk berkeluh kesah. Nanti kalau saat kamu mau cerita tapi mama dan papa mengabaikan kamu tolong ingatkan kami ya nak, karna kita satu keluarga, karna kamu anak mama.  Nak, mama juga gak mau kamu menemukan tempat ternyamanmu selain di rumah. Bukan berarti mama gak suka kamu bergaul dengan temanmu, tapi mama mau kamu tau posisi kamu dan tanggung jawab kamu nak, kamu masih punya kami, tidak ada alasan untuk kamu gak kembali ke kamu, dan ini juga jadi PR buat kami orang tua kamu agar kelak kamu selalu merasa memiliki tanggung jawab sebagai anak terhadap orang tuanya. Nak mama juga mau kamu taat pada agama mu, karena itulah hal yang utama, kamu harus meyakini agama mu adalah agama yang dirahmati Allah, dan kamu harus  merasa Allah selalu melihat setiap apa yang kamu lakukan, dan lagiii ini adalah tugas kami untuk memberi pemahamannya kepada kamu. Kenapa mama minta hal ini harus ada di kamu? karena kalau kamu meyakini Allah selalu ada dan selalu melihat setiap perbuatanmu kamu akan takut untuk berbuat buruk, setiap tindakan akan kamu pertimbangkan baik dan buruknya, lalu kenapa mama minta kamu untuk bisa terbuka dengan mama, karena orang terdekatmu adalah orangtua nak, keluarga. Nanti saat kamu dewasa kamu akan merasakannya, betapa peran orang tua, keluarga itu sangat besar di hidup kamu, terlebih jika kamu sudah memiliki rasa dekat dengan mama dan papa secara alamiah kamu tidak akan mengecewakan kami dengan melakukan hal-hal yang buruk, bukan berarti mama dan papa gak mau memantau kamu, tapi inilah cara yang insya Allah maa terapkan kekamu nanti, supaya kamu tidak melakukan hal-hal diluar batas. Cerita lah selalu kekami ya nak, untuk apapun yang akan dan telah kamu lakukan.

Nak sampai kita bertemu nanti, mama harap kita bisa bekerja sama membangun hubungan keluarga yang baik ya nak, kita akan berjuang untuk itu, dan tentu saja dengan papamu juga. Insya Allah kita akan bangun keluarga sakinah mawadah warahmah itu menjadi keluarga kita ya nak, insya Allah :)

Kamis, 16 Februari 2017

RINTIHAN SUCI PUTRI NABI : Maqtal Fathimah az Zahra

Ps: Dapat tulisan ini dikirim oleh murabbi. Ya Allah betapa aku tak ada apa-apanya dengan perjuangan pendahulu ku. Yang aku tahu dan aku anggap kisahnya dengan Ali adalah kisah teromantis, yang aku anggap betapa enaknya kehidupan beliau, ternyata beliau begitu kuat menjalani kehidupannya yang sangat berat dan penuh ujian. Silahkan di baca, semoga bermanfaat buat kita, dan menjadikan kita lebih kuat, tangguh, tegar dan ikhlas menjalani segala kesulitan.

Tepat pada tanggal 20 Jumadil Tsani, di hari Jumat yang suci, dua tahun setelah bi’tsah Rasul saw, Sayyidah Khodijah melahirkan seorang putri yang telah dipersiapkan untuk mengemban tugas yang teramat berat.

Sosok yang kelahiran sampai akhir hayatnya kelak dipenuhi dengan berbagai derita dan cobaan yang akan menimpanya.

Dengan didampingi oleh empat wanita suci, Assayyidah Khodijah melahirkan bayi suci yang namanya telah dipersiapkan oleh penciptanya sebelum kelahirannya tiba.

Fathimah adalah nama yang dihadiahkan Tuhan untuk putri Nabi ini.

Pada usia yang masih sangat belia Fathimah Azzahra harus berpisah dengan ibundanya yang tercinta. Khodijah wanita suci yang selalu mendampingi Nabi dalam suka dan duka telah dipanggil pencipta untuk selama lamanya.

Nabi bersedih atas kepergian istri yang teramat dicintainya,begitu pula Fatimah turut dalam kesedihan yang teramat sangat. Sepeninggal Khodijah perhatian Fathimah kepada ayahnya semakin bertambah.

Peran ibundanya sekejap ia letakkan diatas pundaknya. Fathimah berupaya menghibur ayahnya atas kepergian sang istri tercintanya.

Ketika Nabi di Thaif, sekelompok anak anak kecil dan juga orang dewasa berlomba menimpuki Nabi dengan batu dan kotoran unta, Fathimah yang masih sangat belia tampil dengan perangai seorang ibu yang cemas dengan putranya.

Dibersihkan kotoran dan darah yang berada pada pada wajah ayahnya. Air mata nabi tak mampu beliau sembunyikan ketika melihat putri tercintanya.

Seorang anak yang sepatutnya sedang asyik bermain dengan teman seusianya sekarang justru berada dipangkuan ayahnya, menghalangi siapapun yang akan melukai rasulnya.

Fathimahpun menangis melihat keaadan ayahnya, dengan suara bergetar penuh keharuan nabi menyeka tiap butiran air mata yang mengalir dipipi mungil putrinya sambil berkata,

"habibati Fathimah la tabki',' belahan jiwaku Fathimah janganlah engkau menangis'. Begitulah ucapan Nabi ketika tangan suci putrinya menyeka darah yang mengalir dikeningnya.

Ummu Abiha, ibu dari ayahnya adalah gelar yang Rasulullah peruntukkan kepada putrinya. Satu satunya gelar yang belum pernah ada dalam sejarah kecuali untuk Fathimah Azzahra as.

Duka dan kesedihan selalu mengiringi kehidupan keluarga nabi, akan tetapi Fathimah senantiasa menyembunyikan kedukaannya selama sang ayah berada disampingnya.
Kecintaan Sayyidah Fathimah begitu tinggi terhadap ayahnya dan begitu pula Rasul saw kepada putrinya hingga beliau bersabda, “Fathimah adalah belahan jiwaku, siapapun yang mencintai Fathimah berarti dia mencintaiku.”

Saat yang membahagiakanpun tiba, Fathimah dinikahkan dengan putra pamannya, seorang yang tak pernah meninggalkan nabi dalam perang apapun, putra Abu Thalib yang kelahirannya dibaitullah dengan segala keajaibannya, dialah Ali bin Abi Tholib yang tanpa keberadaannya tak akan mungkin ada manusia yang layak meminang Fathimah dan menikah dengannya.

Pernikahan yang dirayakan tidak hanya oleh penduduk bumi, para malaikat dan bidadari dilangitpun sibuk menyambutnya. Jibril as meyampaikan pesan Tuhan kepada Rasul ketika merayakan pernikan al Batul Fathimah dengan al Wusul Ali bin Abi Tholib, yang berbunyi,

“Al Hamdu adalah selendang-Ku, keagungan adalah kebesaran-Ku, segala makhluk adalah hamba-Ku, Aku menikahkan Fathimah hamba-Ku dengan Ali pilihan-Ku, saksikanlah wahai para malaikat-Ku...”

Sementara itu di bumi Rasul saw bersabda, “Sungguh aku manusia seperti kalian menikah ditengah kalian dan menikahkan kalian, kecuali Fathimah putriku yang pernikahannya turun dari langit.”

Ketika Rasulullah menyuruh para wanita keluar dari kamar putrinya pada saat malam pernikahan, Asma' bintu Ummais salah seorang pengabdi yang berkhidmat kepada keluarga nabi tetap tak melangkah kakinya,

Hingga Rasulpun bertanya kepada Asma’, “Bukankah aku telah menyuruhmu untuk meninggalkan kamar putriku ini wahai Asma’ ?”

Ia menjawab, “Betul wahai Rasul, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. saya tak bermaksud untuk melanggar perintahmu akan tetapi wasiat Khadijahlah yang menyuruhku untuk berada di kamar ini".

"Di saat-saat terakhirnya beliau mewasiatkan kepadaku untuk mendampingi putrimu di saat seperti ini, karena setiap wanita pasti akan mengharapkan kehadiran ibundanya untuk berada di sampingnya ketika hendak menikah.”

Rasulpun bersedih bersama putrinya ketika mendengar Asma’ bercerita tentang Khadijah .

Madinah 28 Shofar tahun ke-11 H adalah tahun yang paling menyedihkan bagi keluarga Nabi terutama Fathimah.

Lembaran kedukaan yang teramat sangat mulai tampak dirumah Rasul. Semua orang menatap sedih melihat kondisi Nabinya.

Satu persatu keluarga beliau dipanggilnya, dimulai dari Hasan sampai kepada Fatimah yang terus menerus menangis dalam pelukan ayahnya.

Nabi memeluk erat putrinya seakan beliau tak ingin melepaskannya begitu pula Fathimah. Hingga Rasul saw membisikkan pesan terahirnya barulah Fathimah tersenyum keluh, senyuman pertanda ia adalah orang pertama yang akan menyusul ayahnya.

Fiddhoh seorang kepercayan azzahra bercerita tatkala Rasulullah saaw meninggal dunia berdukalah yang kecil dan yang besar, dan bertambah benyaklah tangisan dukapun menjadi besar atas kerabat, sahabat, kekasih dan orang-orang kesayangan, juga orang asing yang tak memiliki nasab dengan beliau. Yang terlihat hanyalah orang yang menangis, baik laki laki maupun perempuan.

Begitu banyak orang yang menangis dan berduka tetapi kesedihan para penghuni bumi tiada sebanding dan melebihi duka Sayyidah Fathimah as, setiap hari kesedihannya bertambah begitu pula tangisannya bertambah keras lalu ia berdiam diri selama tujuh hari.

Ketika Fathimah menangis setiap tangisannya lebih besar dari sebelumnya. Pada hari kedelapan ia menampakkan kesusahan yang dipendamnya, saat itu Fatimah Azzahra berteriak histeris sambil menangis lalu memanggil-manggil ayahnya, “Wa Abatah....wa Muhammadah. Wahai ayah....wahai Muhammad.

Duhai tempat berlindungnya para janda dan anak yatim, siapa lagi milik putrimu yang sangat mencintai dan kehilangannmu ini.”

Dan beliaupun sering tak sadarkan diri, ketika Bilal mengumandangkan azan, saat terdengar nama ayahnya disebut dala “Asyhadu anna Muhammadar Rasululullah”.

Kembali Fathimah menangis seraya berkata, “ismuka ‘alal mana’ir wa rosmuka fil maqobir (namamu menghiasi menara-menara masjid, sementara jasadmu terbujur di dalam kubur).”

Ali berlari memeluk istri tercintanya dan memberikan baju nabi yang dipintanya, lalu Fathimah menciumi baju Nabi sampai terjatuh ke tanah, sambil berlinang air mata Azzahra berjalan menuju pusara ayahnya.

Ketika berada di depan kubur ayahnya, Fathimah mengambil segenggam tanah dari makam ayahandanya, beliau ciumi tanah suci nabi sambil berkata, “Madza ‘ala man syamma turbata Ahmadin, ala yasyummu madazamani ghowaliya, syubbat alayya masho’ibun laula annaha, syubbat ‘alal ayyami sirna layaliya (…kalau saja penderitaanku ditimpakan pada siang, maka ia akan menjadi malam)”

Tak ada lagi senyuman yang terpancar dari Fathimah setelah kepergian nabi. Hari demi hari pendertitaan datang silih berganti. Seakan ujian enggan menjauhinnya.

Para sahabatpun memiliki andil besar dalam menambah kesedihan untuk putri kesayangan nabi ini. Setelah mereka mengambil hak suaminya, Ali dan tanah fadaqpun dirampasnya sebagai milik negara oleh penguasa.

Tidak berhenti sampai di situ penderitaan Fathimah putri nabi semakin menjadi ketika sekumpulan manusia lapar kekuasaan mengepung rumahnya. Rumah tempat turunnnya risalah, rumah yang dindingnya adalah nubuwah dan atapnya adalah arsynya Allah, sekarang sedang dikelilingi oleh orang yang mengaku tonggaknya agama dan kebenaran.

Teriakan bengis yang tak patut mereka lontarkan, sampai ancaman pembakaran. Pintu rumah pertemuan antara nubuwah dan imamah didobrak paksa, pintu yang di baliknya terdapat wanita tanpa daya.

Di balik pintu itu ada Fathimah. Mereka terus memaksa masuk. Pemandangan apakah yang terjadi setelahnya. Fatimah Az-Zahra jatuh terhuyung ke tanah rumahnya. Lalu api mereka sulut dan lemparkan. Fathimah terluka, tulang rusuk dan lengannya pun patah. Putra beliau (Muhsin) syahid karena keguguran.

Lengkaplah kesedihan putri nabi dengan apa yang diterimanya dari orang yang mengaku para sahabat pembela ayahnya. Hal ini mengingatkan kita akan syair yang layak melekat pada mereka, “Lau ahabbu abaaki haqqon ahabbuki (Kalaulah benar mereka mencintai ayahmu, pasti mereka akan mencintaimu).”

Hari demi hari dilaluinya dengan penderitaan yang tak kunjung berakhir, badan putri nabi ini semakin teriris pedih dan tubuhnyapun semakin tak berdaya.

Ketika kekuatan fisiknya semakin melemah dikarenakan sakit yang dideritannya. Fatimah Azzahra berupaya memandikan putranya Al-Hasan dan Al-Husain, menggantikan pakaian mereka, kemudian mengirim mereka kepada sepupunya, walaupun demikian ia berupaya menyembunyikan rasa sakitnya di hadapan kedua anaknya.

Kemudian Fatimah Azzahra memanggil suami tercintanya ke sisinya seraya berkata, “Ali suamiku yang tercinta, anda sangat mengetahui mengapa saya lakukan semua itu.

Maafkan segala kesalahanku, mereka telah demikian menderita bersamaku selama sakitku, sehingga aku ingin melihat mereka bahagia pada hari terakhir hidupku.

Wahai Ali andapun tahu bahwa hari ini adalah hari terakhirku. Aku gembira tetapi juga bersedih.

Aku senang bahwa penderitaanku akan segera berakhir dan aku akan bertemu dengan ayahku, dan sedih karena harus berpisah denganmu.

Mohon wahai Ali catatlah apa yang akan aku katakan dan kerjakanlah apa yang aku inginkan. Sepeninggalku anda boleh menikahi siapa saja yang anda sukai, tetapi hendaklah anda nikahi Yamamah sepupuku, ia mencintai anak-anakku, dan Husain sangat dekat kepadanya.

Wahai Ali kuburkan aku di malam hari dan jangan biarkan orang-orang yang telah sedemikian kejam kepadaku turut menyertai penguburanku.

Jangan biarkan kematianku mengecilkan hatimu. Anda harus melayani Islam dan kebenaran untuk waktu yang lama.

Janganlah penderitaanku memahitkan kehidupanmu. Berjanjilah padaku wahai Ali.”

Dengan berlinang air mata, Ali menjawab, “Ya wahai istriku tercinta, aku berjanji.”

Fathimah lalu berkata lagi, “Ali, saya tahu betapa engkau sangat mencintai anak-anakku. Namun, sangatlah berhati-hati dengan Husain, ia sangat mencintaiku dan ia akan sangat sedih kehilangan saya.

Jadilah ibu baginya. Hingga menjelang sakitku ini, ia biasa tidur ke dadaku, dan sekarang ia kehilangan itu.”

Ali sedang mengelus-elus tangan yang patah itu, tak kuasa menahan airmatanya hingga tetesannya terjatuh ke tangan istrinya.

Fathimah mengangkat wajahnya seraya berkata, “Jangan menangis wahai suamiku, aku tahu dengan wajah lahirmu yang tampak kasar betapa lembut hatimu, engkau telah menderita terlalu banyak dan masih akan menderita lebih banyak lagi.”

Di malam terakhir kehidupunnya didunia yang fana ini, sambil menahan rasa sakit yang menimpanya, Sayyidah Fathimah Azzahra menengadahkan kedua tangannya ke langit dan berdoa untuk pengikut dan pencinta setia keluarga Nabi.

Dengan menyebut ayah, suami, dan putra-putranya beliau memohon kepada Allah Jalla wa 'Ala',

“Wahai Tuhan-ku, sungguh aku memohon kepada-Mu melalui Muhammad al-Musthofa dan kerinduannya kepadaku, melalui suamiku Ali al-murtadho serta dukanya terhadapku, melalui al-Hasan al-Mujtaba dan tangisannya atasku, melalui putraku al-Husain As Syahid dan kedukaannya terhadapku, melalui putri-putriku dan duka mereka semua atasku.

Sungguh Engkaulah yang paling pengasih dari segala yang mengasihi. Tuhanku, Penghuluku, aku bermohon kepada-Mu melalui orang orang pilihan-Mu dan tangisan putra-putraku karena berpisah denganku, agar Engkau mengampuni para pendosa dan ahli maksiat dari pengikut keturunanku.”

Madinah, 3 Jumadil Tsani 11 H. Saat saat yang memilukan semakin mendekati keluarga nabi dan pencintanya.

Asma’ binti Umais dengan diselimuti kegundahan berada di depan pintu kamar Fatimah Azzahra. Suara lantunan al-Quran dan doa dalam sholat Fathimah masih mampu didengarnya, akan tetapi tak lama kemudian suara itu lenyap tak terdengar lagi.

Asma' pun memanggil, “Ya Zahra .....ya Zahra ....... ya Zahra”,tetapi tidak tak ada jawaban.

Hingga ia pun memberanikan diri untuk memasuki kamar putri nabi, dan didapatinya tubuh suci putri nabi di atas sajadah dalam keadaan sujud tertutupi rida'-nya.

Lalu dibukanya rida’ (kain penutup) itu, dan tampak wajah penuh bercahaya memancar dari paras suci Azzahra as.

Belum usai tangis Asma’, ia sudah dikejutkan oleh suara salam anak kecil dari balik pintu, yang tak lain adalah suara Hasan dan Husain yang baru usai sholat berjamaah dengan ayahnya.

Segera mereka bertanya tentang keberadaan ibu mereka.

Asma' mengatakan bahwa ibunda mereka sedang tertidur, lalu menyuruh putra Zahra ini untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan.

Tetapi apa jawab Al-Husain, “Saat ini adalah saat ibu kami beribadah dan kami tidak pernah menikmati hidangan tanpa ibu di samping kami.”Asma tak mampu menyembunyikan tangisnya

Al-Husain segera berlari menuju ke kamar ibundanya, ia mendapati ibunya sudah tak bernyawa.

Sambil berteriak dan menangis, Al-Husain menciumi kaki ibunya, Al-Hasan meletakkan pipinya di wajah ibunya, “Ya ummah kallimini.....ummah kallimini ..... ana ‘azizuki al-Husain (wahai ibu, bicaralah kepadaku…bicaralah kepadaku…aku putera kesayanganmu al-Husain).”

Ali pun jatuh tersungkur tak sadarkan diri di perkarangan masjid Madinah, ketika mendengar kepergian Fathimah. Kaki yang tegap ketika di Badar, tubuh yang kekar ketika di Khaibar, akhirnya tak kuasa menahan derita perpisahan dengan semerbak wewangian surga Fathimah al-Kautsar.

Beliau berkata, “Aro ‘ilaluddunya alayya katsirotan wa shohibuha ba’dal mamati ‘alilun”.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Fathimah hanya meminta Ali menyolatkan dan menguburkannya, dikarenakan beliau telah membersihkan dirinya dan telah menyuruh Asma' mengkafaninya, dikarenakan kasih sayang Fathimah kepada Ali suaminya, agar beliau tak melihat bekas luka dirusuknya yang patah. Beliau khawatir Ali semakin bertambah kesedihannya.

Malampun tiba, sekelompok kecil orang yang diizinkan Fathimah berjalan mengusung jenazah putri nabi. Ali pun meminta Abu Dzar untuk mengusungnya karena beliau tak mampu berjalan dengan keranda Sayyidatun Nisa’ di pundaknya.

Usai pemakaman Ali meminta Abu Dzar membawa pulang kedua putranya dan meninggalkan dirinya sendiri di pusara istrinya.

Ketika tak seorangpun berada di kubur Fathimah, Ali menghadap ke kubur Rasulullah seraya berkata, “Assalamu ‘alaika ya Rasulullah. Salam atasmu wahai Nabi Allah, aku dan putrimu sekarang berada di pekaranganmu.

Tak lama lagi putrimu akan bertemu denganmu, wahai junjunganku. Sahabatmu yang tulus ini masih mampu bersabar berpisah dengannya, namun yang membuat aku lemah kelak putrimu akan memberitahukan kepadamu tentang penyelewengan umatmu dan tindakan mereka yang menyakiti putrimu.

Tak lama lagi ia akan menemuimu untuk menceritakannya kepadamu. Salam sejahtera dariku, seorang yang amat mencintaimu.”

Salam atasmu duhai putri sebaik baiknya makhluk, salam atasmu wahai putri nabi, salam atasmu wahai istri al-washi, salam bagimu duhai ibu al-Hasan dan al-Husain, salam atasmu wahai wanita suci yang dizhalimi dan diambil haknya, salam bagi ruh dan jasadmu yang suci nan semerbak dari lisan yang penuh dengan dosa ini,

Salam bagimu.....

(Ust. Fuad al Hadi)

Jumat, 30 September 2016

Adalah titipan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah semoga semuanya senantiasa dalam keadaan sehat walafiat.

Beberapa waktu lalu, alhamdullilah diberi Allah kesempatan untuk bersyukur sedalam-dalamnya atas nikmat yang selalu tercurah untuk setiap hambaNya. Sakit. Hampir setiap orang pernah jatuh sakit, tapi cuma sedikit orang yang lantas bersyukur dan sadar bahwa sakit pun adalah bentuk teguran dari Allah bahwa ternyata kita telah mendzolimi diri sendiri, ada hak-hak tubuh yang tidak kita penuhi tapi menuntut untuk selalu tampil bugar dan fit.

Berusaha untuk optimal dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan tapi tidak optimal menjaga kesehatan tubuh, berusaha tepat waktu untuk urusan pekerjaan tapi tidak tepat waktu memberi asupan tubuh, lalu siapa yang akan di salahkan jika sakit datang? Kalau pekerjaan, kendaraan, rumah, harta adalah titipan bagaimana dengan kesehatan? Adalah sama, tubuh manusia adalah titipan dari Allah yang harus kita jaga juga. Siapa yang senang kalau barang titipan nya dirusak dan tidak di rawat? Begitu juga dengan tubuh kita, miliknya Allah harus kita jaga.

Segala gerak tubuh saat sakit itu terasa menyiksa, tidur terus punggung sakit, duduk kepala pusing, berdiri pandangan kabur. Masya Allah betapa nikmat memiliki tubuh yang sehat. Ingin tidur, berdiri ataupun duduk terasa begitu santai, begitu nikmat.
Saat sakit mau makan buah pahit, makan kue pahit, minum susu mual, minum teh gak enak, masya Allah betapa nikmatnya makanan dam minuman disantap saat tubuh sehat, saat tubuh bugar.
Saat sakit jangankan di ajak ngobrol untuk membuka mata saja rasanya enggan, masya Allah betapa membahagiakannya saat bisa berkumpul bercanda bersama saudara atau sahabat dalam kondisi sehat.

Begitu banyak nikmat yang tiada habis untuk selalu disyukuri saat tubuh sehat. Sangat banyak kesenangan yang bisa dilakukan. Mari dari sekarang mulai lah untuk tidak dzolim terhadap diri sendiri, mulailah untuk mencukupi segala hak yang di perluakn oleh seluruh anggota tubuh, karna kita pula yang akan merasakan nikmat luar biasa saat sakit.

Alhamdulillah ya Allah, terimakasih untuk nikmat sehat yang Kau berikan kepada hamba hari ini😊

Rabu, 29 Juni 2016

Ukhti, Jangan Sampai Syar'i mu Membahayakan

Alhamdulillah sejuk ya lihat muslimah mengulur jilbab, terlihat anggun dan cantik, yaps saat ini sudah semakin banyak yang berusaha untuk tampil lebih baik, dulu dianggap jadul bin norak, gaya mamak-mamak, yang boleh pake cuma orang-orang tua, tapi sekarang semua kalangan sudah banyak terlihat anggun dengan balutan syar'i, yang muda pun sudah tidak takut lagi dikira tua, bahkan anak-anak perempuan sudah dibiasakan mengenakannya, bukankah ini kemajuan yang luar biasa? semoga kita semua bukan cuma untuk ikut trend tapi benar-benar selalu belajar menjadi sebaik-baiknya perhiasan dunia.
Lalu ada apa dengan pakaian syar'i? Kenapa kok bahaya? Bukannya hal itu adalah wajib bagi setiap muslimah?
 
Oke, perlu di jelaskan sebelumnya post kali ini bukan akan membahas tentang bagaimana seharusnya pakaian syar'i atau model terbaru dan terbagus untuk jenis hijab yang akan di kenakan atau malah membahas tentang dalil-dalil dalam berbusana, Tidak. Tapi lebih kepada pengalaman yang mungkin kita semua mengalami, terkhusus bagi pengendara roda 2.
Banyak dari kita tahu saat berkendara harus memastikan keamanan, kenyamanan dan keselamatan agar resiko-resiko buruk bisa kita hindari, mulai dari menggunakan helm saat berkendara, menyalakan sein saat ingin berbelok dan masih banyak lagi syarat yang dipenuhi untuk bisa selamat selama berkendara. Namun kalo boleh saya menambahkan setiap kita (khusus perempuan) perlu juga memperhatikan pakaian kita saat berkendara apalagi kalau posisi kita sebagai penumpang. Beberapa waktu lalu pernah terlihat wanita jatuh karna rok/gamis yang dikenakan masuk ke jari-jari motor saat di bonceng, untungnya korban selamat dan cuma lecet. Tapi sebagai orang yang berada tepat di belakang motor korban rasanya itu hal sepele yang sangat membahayakan, sering sekali lalai dengan membiarkan rok/gamis kita berkibar-kibar pada akhirnya justeru hal itu malah membahayakan. Lalu pernah (bahkan sering) saat seseorang dengan pakaian syar'i di bonceng rekan atau suaminya kerudung yang dikenakan menutup lampu rem dan sein, teman-teman pasti juga pernah menemukan kejadian seperti ini kan dan itu sangat membahayakan orang lain. Bisa jadi yang membawa kendaraan sudah berhati-hati dengan menyalakan sein saat berbelok atau mengerem tapi karena busana yang menutupi lampu peringatan itu akhirnya pengendara lain yang berada di belakang kita tidak menyadari dan terjadi kecelakaan. 

Cukup sepele sebenarnya, kita berusaha berpakaian baik supaya tidak celaka tapi malah membahayakan bahkan untuk orang lain. Jadi sekiranya untuk kita semua saat berkendara hendaknya memperhatikan bagian pakaian kita agar tidak menutupi (lampu rem dan sein) dan membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Bukan salah pakaiannya, tidak sama sekai, tidak ada yang salah kalau sumbernya dari Allah SWT, tapi akan lebih bijak bila kita memperhatikan hal kecil ini, tujuannya baik agak kita semua selamat.
Sekali lagi! Masalah ini sumbernya bukan dari pakaian yang di kenakan, tapi kesadaran kita yang perlu sedikit diperbaiki, sangat di perbolehkan menegur sahabat kita bahkan saat di jalan sekalipun, kalau yang bersangkutan marah berarti orang itu ........ (isi sendiri :D).
 
Ingat ya, kewajiban kita sebagai muslimah bukan hanya sekedar menutup aurat, tidak mendzolimi saudara/saudari kita juga wajib hukumnya, jangan sampai niat baik kita malah membahayakan orang lain. Jadi, mulailah menjadi baik bersama-sama, saling mengingatkan dalam kebaikan karna yang berjamaah itu besar pahalanya.

Selasa, 28 Juni 2016

Assalamualaikum Blog Baru

Sehubungan dengan banyaknya yang telah dihubungkan (apaan sih -_-) terciptalah blogg baru yang mudah-mudahan kita semua bisa bertambah ilmu dan pemahaman baru. Sesuai judulnya blog ini adalah cara pandang saya terhadap suatu hal, jadi, jika sekiranya nanti ada hal-hal yang tidak tepat mohon untuk diluruskan, karna saya masih muda, saya belum banyak pengalaman dan saya manusia wajar jika perlu untuk selalu diingatkan. Sebisa mungkin diusahakan untuk update setiap hari mengenai hal yang menarik bagi saya untuk di tulis, maka dari itu selamat membaca teman-teman, semoga bermanfaat. Salam cantik dari penulis cantik (karna saya wanita) :)